Tampilkan postingan dengan label Artist. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Artist. Tampilkan semua postingan

Rabu, 21 November 2012

Indonesia Netlabel Union 2012


Indonesia Netlabel Union 2012 
Ajang Berkumpul Netlabel - Pendownloader 
 



Pernah mendengar siaran langsung pertunjukkan musik melalui Internet? mengunduh album musik secara legal dan gratis atau membuat musik remix? Sederhananya itulah Netaudio —aktivitas berbasis audio yang bergerak di dunia virtual, bagian dari kehidupan nyata kita, Internet. Netlabel dan radio online/radio internet telah dikenal oleh para pecinta musik dan aktivitas berbagi musik lepas dari hukum hak cipta konvensional yang mengekang kreativitas dan tidak melulu berorientasi pada nilai komersial menjadi hal yang penting untuk dilestarikan. Sebuah praktik gotong-royong, kearifan lokal di era teknologi informasi.

Minggu, 11 November 2012

Behind The Scene of ZORE


Behind Scene of ZORE // ZOna REmaja
Praktik Gabungan Semester V of Manaprodsi & Matektosi

Sebuah Praktek Gabungan antara program studi yang ada di Sekolah Tinggi Multi Media " MMTC " Yogyakarta. Praktek ini mengerjakan sebuah program produksi siaran Variety Show untuk Radio.
Memang kedengarannya siaran itu mudah tinggal on air aja tapi dibalik kedengarannya mudah itu sebenarnya ribet banget, dari mulai Pra production - Production - Pasca Production.

Jumat, 10 Agustus 2012

Senin, 13 Februari 2012

visit the zoo of ojanto

     
   Saturday, disaat pagi hari yang sangat panas dan cuaca yang mendukung untuk ber-lazy time on the bed. tapi hari itu saya punya janji dengan pacar saya untuk mengajak dia pergi ke kebun binatang ojanto yang sedang menyelenggarakan mini pattern exhibitionnya. Ojanto yang menggelar karyanya di salah satu tempat cozy buat bersantai - santai dan melakukan hal - hal yang menyenangkan lainnya , jauh dari hiruk pikuk kota yang sangat berisik dan padat. 

Kamis, 06 Oktober 2011

My Photos on Women On Top Exhibition 2010

Woman Control My Mind
Okinawan Agni Mulyono .



Ini adalah sebuah Karya foto yang ada makna tersirat dibalik foto tersebut .karya ini berjudul "Woman Control My Mind" .foto ini didedikasikan untuk event tahunan klastic jogja yaitu Klastic Jogja Exhibition dan itu diselengarakan setiap tahun dan waktu itu jatuh pada tahun 2010.dengan nama pameran Woman on Top .Klastic jogja ingin mengangkat bagaimana sisi kehidupan wanita dan disaat dia berada diposisi atas / puncaknya .Foto saya ini menjelaskan bagaimana seorang pria diperbudak oleh makhluk paling lembut dijagad raya ini yaitu WANITA .dimana seorang pria rela melakukan apapun demi cinta dari sang wanita itu sendiri .tapi entah apa namanya di manfaatkan atau tidak ( tidak semua wanita seperti ini ) pria tersebut akan takhluk dan akan menuruti apa perkataan sang wanita . entah mungkin otaknya telah terhubung dengan joystick yg bisa mengatur pikiran dan gerakan si pria .seorang wanita akan bisa mengontrol pikiran itu sendiri dengan tipu dayanya dengan kata - kata manisnya yang bisa membuat hati si pria luluh lantah dan bisa menjadi tidak berfikir dengan jernih .pikiran dia kosong dan akhirnya bisa dikendalikan oleh sang Wanita tersebut .

Terima kasih banyak buat Andi Paddusung Prabandaru & Anggita Oktafiana Dewi yang bersedia menjadi talent .terima kasih buat Klastic Jogja buat kesempatannya bisa ikut dalam exhbition kali itu.saya senang sekali sekaligus bangga bisa ikut berpartisipasi didalamnya . Goodluck Klastic & KlasticYK . you are more than just a community but family .

Gear :
  1. Noname Camera from Dad
  2. Fuji Extra 400 ( film equipment ) 



Selasa, 16 Agustus 2011

Sabtu, 30 Juli 2011

Melancholic B1tch


Melancholic bitch  is  ?

Band pinggiran yang dibentuk akhir 90an di Yogya ini seperti sedang menulis ulang pengertian dari idiom lama "hidup segan mati tak mau". Cerita mereka cukup panjang, terlalu panjang untuk diceritakan ulang; juga tak terlalu penting. Pendeknya; mereka sudah muncul sejak jaman Parkinsound masih rutin diadakan tahunan; sesekali main band di panggung lokal, sesekali main di luar kota, sesekali main musik untuk performance dan teater, sesekali main musik untuk film, tapi lebih sering duduk-duduk, bercanda, saling memusuhi lalu berdamai sebelum permusuhan berikutnya. Sebuah band, bagaimanapun, cenderung meniru sebuah keluarga. Mengutip Anna Karenina: Seluruh keluarga bahagia selalu sama; keluarga tidak-bahagia, selalu tidak berbahagia dengan caranya masing-masing. Keluarga tidak berbahagia yang sering disingkat namanya menjadi Melbi ini disfungsional, retak, tapi selalu punya alasan untuk berkumpul di hari raya. Hari raya yang sibuk mereka ciptakan sendiri. 

Melancholic bitch player :
 
Yosef Herman Susilo (Electric-Acoustic Guitar, Mix-Engineer)
Ugoran Prasad (Voice, Lyric)
Teguh Hari Prasetya (Bass, Keyboard)
Yennu Ariendra (Electric Guitar, Synth, Laptop)
Septian Dwirima (Percussion, Laptop)

Album Melancholic Bitch :


recording label 
loverecord / neonlightrecord / dialecticrecord

My Opinion

Menurut saya,Melbi ( Melancholic bitch ) ini adalah band indie yang cukup fenomenal dikalangan para pecinta musik indie tanah air,dan khususnya diyogyakarta sendiri.band semi teatrikal ini mempunyai suatu karakteristik sendiri.entah mengapa setiap mendengarkan lagu melbi melalui i-tunes ataupun secara langsung di acara konsernya.auranya sangat kuat dan bisa menghipnotis seluruh para joni dan para susi yang menonton saat itu.melancholic bitch sendiri sering berkolaborasi dengan beberapa band / soloist yang sudah cukup terkenal juga dikalangan pecinta indie. salah satunya adalah Frau yang menjadi pasangan duetnya Ugoran dalam lagunya yang berjudul " Sepasang Kekasih Yang Bercinta di Luar Angkasa " dan itu juga salah satu lagu favorite saya . mempunyai makna yang dalam . pada tahun lalu 9 agustus 2010 adalah konser terakhir melancholic bitch dengan tajuk " Joni dan Susi: The end of chapter I (the new beginning of chapter II) " di Tembi Rumah Budaya . saat itu tidak hanya Melbi sendiri melainkan juga menampilkan yaitu Tika & Melancholic Bitch , Silir Pujiwati & Melancholic Bitch ,Wok The Rock & Frau ,Nadya Hatta & Frau ,Ugoran Prasad & Frau . konser ini Ini adalah show terakhir Ugoran Prasad di Melancholic Bitch serta di Frau, dia akan menetap selama 1 tahun di New York untuk meneruskan study, terhitung dari akhir Agustus 2010 sampai Agustus 2011. Pada show ini juga Melancholic Bitch hadir tanpa Yennu Ariendra, karna sedang berada di Singapore bersama Papermoon Puppet Theatre. dan minggu lalu konser pertamanya di tahun 2011 tengan tajuk " Keracunan Ingatan " tepatnya tanggal 27 Juli 2011 di Langgeng Art Foundation .



Konser yang menampilkan Melbi dan Armada Racun ini dihadirin para joni-joni dan para susi-susi .Langgeng Art Foundation sendiri cukup ramai malam itu .dan saya tidak ingin ketinggalan acara ini , saya yang waktu itu dateng sendiri dan ternyata disana sudah mulai.waktu itu saya datang pukul setengah 9 malam dan saya ketinggalan Perform dari Armada racun . dan disana saya bertemu banyakn teman dan diantaranya adalah teman komunitas saya dari Klastic Jogja .saya tidak lupa untuk mengabadikan moment ini.monggo disaksiken .
 
Perform Stage


Ugo feat Frau | Sepasang Kekasih Bercinta Di Luar Angkasa





Teman disetiap Perform Beer & Rokok


Antusias penonton malam itu sangatlah ramai . saya sendiri merasa terobati rasa kangen untuk melihat perform Melancholic bitch setelah ditinggal pergi ugoran ke Amerika selama setahun .saya bersyukur masih bisa mendengarkan alunan - alunan musiknya . goodjob joni & susi ! 




Photo By : Owl
Nikon D90

Senin, 25 Juli 2011

EBOY PIXEL ARTIST

There’s a group of pixel artists who have made it big in the real world. Three men in Berlin and one in New York call themselves eBoy, and they make pixel art that has appeared in magazines, on albums, posters, Web pages, commercials, and in other places besides. Formed in 1998, eBoy’s mission is simply to give the four artists a “stage and a shared identity and a shelter from all the killers out there.”

eBoy’s work resembles, but does not spring directly from, video games. Only the New York quarter of the team draws from a childhood of gaming; the other three grew up in East Germany where video games weren’t quite as well known. Instead they draw from other pop-culture elements, such as television, advertising, supermarkets, and Lego. Their art runs the gamut from simple faces, animals, and rampaging beasts, to giant cityscapes filled with isometric buildings, vehicles both worldly and fantastic, designer trees, and the occasional nipple. Their art often brings immediately to mind an era of games gone by. There’s a familiarity, almost like déjà-vu, about their pictures. It’s the pixels and the geometric precision that cause the recall. Games like Sim City look almost but not exactly like the cities created by eBoy. All of us have seen icons that look, at first glance, like some of the rogues in eBoy’s bizarre galleries. It’s an illusion, however. There never was an era in games that mixed the primitive graphic approach eBoy employs with the number of hues and shades they rely on. These creations spring from an age that video gaming skipped, an age of unlimited color and resolution without even a nod toward realistic use of perspective or proportion. And yet, for all the reasons that eBoy’s work couldn’t have come from games, they still look like they do—and that is part of . eBoy’s works are playful, colorful, and wonderful. Part toy landscape, part video game, and part cultural statement, each image grabs your attention and holds it tight. There never was an era in games that mixed the primitive graphic approach eBoy employs with the number of hues and shades they rely on. These creations spring from an age that video gaming skipped, an age of unlimited color and resolution without even a nod toward realistic use of perspective or proportion. And yet, for all the reasons that eBoy’s work couldn’t have come from games, they still look like they do—and that is part of their unique appeal.
There’s a growing demand for the kind of art eBoy creates. Their client list includes an impressive array of global companies. Amazon, Coca-Cola, Renault, Adidas, and MTV are but four from an impressive roster. It has been remarked that eBoy might have been right at home in the 16-bit era of gaming. Their work evokes the very best qualities of the old school. They’re simple, they’re complex, they’re colorful, and they’re large. There’s no doubt they might have been comfortable designing game graphics back then, but it doesn’t really seem they’re having out of their element now.It’s an interesting phenomenon that pixel art, created at first solely for video gaming, has moved on, beyond the games, and is now found in great numbers on home pages, magazines, and grafitti. Even unanimated, these chunky stacks of blocks are breathing with a life of their own. You can find them everywhere, drawn by anyone, and with newer techniques and better tools, they’re looking better than ever before.  Eboy Pixel Home !